Apakah cornering itu memang harus
kneedown? Tentu tidak. Esensi cornering adalah tentang menangani tikungan
dengan baik, masuk dan keluar tikungan secara efisien dan aman. Adapun kneedown
atau ‘knee draging’ hanyalah satu aspek kecil dari teknik cornering. Karena
menikung dengan baik tidak selalu harus merebahkan motor semiring-miringnya
atau sampai dengkul nempel ke aspal.
Tentu jangan dibandingkan dengan
pro-racer atau pembalap beneran yg suka kita tonton di tv. Kneedown buat mereka
bukan lagi hal aneh atau istimewa. Mereka sering memakai teknik kneedown secara
natural, karena level kecepatan dan tipe tikungan yang memang menuntut mereka
harus kneedown. Ada juga yg menyebutkan kneedown digunakan pembalap untuk
mengukur seberapa jauh kemiringan motor (lean angle).
MACAM RAGAM GAYA MENIKUNG
MACAM RAGAM GAYA MENIKUNG
Oke, untuk bisa kneedown diperlukan posisi badan yang tepat. Itu kesimpulan awalnya. Tapi gimana sih sebenernya posisi badan yang tepat saat menikung? Dan body position yang tepat itu seperti apa? Jawabannya ternyata memang gak eksak. Setiap rider bisa saja mengadaptasi gaya menikung sesuai postur tubuh ataupun seleranya masing-masing. Misalnya seperti yang ditunjukan oleh gambar populer yang banyak ditemukan diberbagai forum cornering lovers, sebagai berikut:
Foto ilustrasi diatas menjelaskan tentang berbagai type Body position yang bisa diterapkan saat cornering. Semuanya bagus dan tak ada yang salah. Hanya saja setiap posisi memiliki karakteristik masing-masing terkait Perbedaan derajat kemiringan rider VS derajat kemiringan motor (lean angle) yang mempengaruhi center of gravity atau titik pusat keseimbangan di tikungan.
Singkatnya begini, saat kita mencoba merebah/menikung (anggap aja kekiri), ada dua gaya/kekuatan yang saling tarik menarik dan menciptakan titik keseimbangan motor sehingga motor bisa tetap berdiri. Yg pertama adalah gaya gravitasi yang menarik motor kebawah (kearah dalam tikungan). Yang kedua adalah gaya sentrifugal atau inertia yang menarik motor ke arah berlawanan (ke kanan/luar tikungan). Bayangkan saat kita jadi penumpang bis ugal-ugalan yang belok tajem ke kiri, badan kita justru seakan tertarik berlawanan dg arah tikungan kan? Nah itulah efek inertia atau centrifugal force.
Gaya sentrifugal semakin besar seiring kecepatan. Makanya semakin kenceng motor, semakin berat/susah direbahinnya. Semakin pelan motor semakin gampang dimiringin. Nah kalo pelan banget? ya gubrak jatoh ke tanah….karena gaya sentrifugalnya kurang, kalah sama gaya gravitasi, hehe. Makanya untuk bisa kneedown diperlukan speed yang cukup di tikungan, supaya gaya sentrifugal nya cukup unutuk menjaga motor bertahan gak ambruk di tikungan walau ‘ditarik’ bobot badan dan gravitasi.
Dari gambar body positioning diatas, ada prinsip penting yang bisa kita simpulkan yaitu:
- Rider dan Motor merupakan satu kesatuan yang memiliki satu titik tengah keseimbangan (center of gravity). Saat menikung, posisi badan pengendara akan mempengaruhi titik keseimbangan keseluruhan
- Posisi badan yang tegak/menjauh dari tikungan (contoh gbr no 2) secara otomatis akan memaksa motor menjadi lebih miring untuk mempertahankan titik tengah keseimbangan (center of gravity). Sebaliknya, posisi badan yang lebih turun/menggantung ke arah dalam tikungan (no 3) akan membuat motor lebih tegak untuk menyeimbangkan center of gravity. Bisa terlihat jelas dari perbandingan kemiringan motor pada gaya menikung NO 2 vs NO 3.
- Posisi badan hanging off (badan lebih rendah/condong ketikungan) dianggap lebih aman dan menguntungkan karena membuat motor tidak terlalu miring. Motor yang lebih tegak membuat permukaan/tapak ban yang menempel dengan aspal masih banyak. Sehingga mengurangi resiko hilang grip/low side. Dalam situasi race, ini menguntungkan karena motor bisa digas/berakselerasi lebih awal saat mau keluar tikungan.
- Style 1. : Disebut counter weight. Saat menikung, posisi rider justru menjauh dari tikungan. Badan duduk tegak, Motor yang didorong miring. Tangan dalam (tangan kiri) cenderung lurus dan kaku. Style ini kurang cocok untuk dipakai melibas tikungan dengan kecepatan tinggi. Beresiko tinggi ban tergelincir karena motor harus sangat miring bila ingin menambah kecepatan di tikungan.
- Style 2 : Kebalikan dari gaya pertama. Disini pengendara memasuki tikungan dimulai dengan dagu dan bahu yang dicondongkan ke arah dalam tikungan. Pantat digeser sedikit saja keluar jok, dan mengalihkan sebagian bobot tubuh ke footstep dalam (kiri) sehingga siku tangan bisa lebih rileks. Gaya seperti ini cocok untuk dipergunakan sehari-hari saat menikung dijalanan biasa. Digambar ini disebut Upper Body Shift karena hanya pinggang keatas yang bergeser titik beratnya. Sebagian kalangan juga menyebut gaya ini sebagai Neutral Style. Saya sendiri juga termasuk pengguna gaya netral atau neutral style ini.
- Style 3 : Style ketiga disebut Full Body Shift karena si pengendara memanfaatkan perpindahan bobot badan keseluruhan secara optimal. Menggeser pantat keluar minimal 1 belahan bokong ada diluar jok, bahkan banyak yang FULL dua belahan bokong menggantung disamping jok (hanging off). Keseluruhan badan condong ke dalam tikungan, Kepala dan dan bahu condong dalam tikungan, siku tangan kiri ditekuk rileks, kaki dalam dibuka dan jinjit menekan footstep, kaki luar menjepit tangki. Dengan gaya ini, motor tak perlu terlalu miring. Motor bisa lebih tegak dan leluasa menambah kecepatan ditikungan karena traksi ban lebih banyak.
MENGGANTUNG TAK SEKEDAR MENGGANTUNG

Oke, berdasarkan penjelasan gambar ilustrasi diatas, saya pun bisa mengambil kesimpulan sementara, bahwa posisi terbaik untuk kneedown adalah hanging off position. Tapi saya belum puas dengan kesimpulan ini. Karena saat mencoba posisi menggantung seperti ini rasanya kok kurang nyaman ya. Juga bila melihat pose-pose kneedown kawan-kawan, gak selalu sama cara gantung badannya.
Mencoba menggali lebih detail lagi, banyak pelajaran baru yg berharga buat saya yg newbie ini. Bahwa ternyata sekedar mengeluarkan pantat dari jok saja belum berarti sudah benar. Beberapa referensi mengatakan, yg perlu diperhatikan adalah posisi badan dari pantat sampai kepala harus diusahakan minimal pararel alias segaris dengan motor (FIG 1). Lebih baik lagi bila garis badan bisa lebih condong ke tikungan dibanding motor. Jadi bukan hanya pantatnya saja.
Sering ditemui, rider menggantung pantat tapi tubuh bagian atas tegak ditengah central line motor. Kalau ditarik garis imajiner, garis tubuh dari pantat ke kepala terlihat menyilang /berlawanan dengan garis motor. Posisi yang menyilang ini disebut Crossed Up atau Twisted. Posisi crossed up terlihat tidak natural, membuat pinggul menjauh dari tikungan, kepala sulit diputar, dan tangan sulit rileks karena jadi tumpuan di setang.
Contoh ilustrasi dari posisi Crossed Up atau menyilang ini bisa dilihat di foto berikut:
Pada gambar diatas, lebih dari setengah belahan bokong memang sudah keluar dari jok. Tapi garis tubuh bagian atas seperti berputar berlawanan (twisted) dengan garis posisi motor.
Untuk mensiasati supaya posisi upper body tidak menyilang, tips yang dianjurkan adalah dengan memvisualisasikan seakan akan kita ingin berkaca pada spion arah tikungan (istilahnya ‘kissing the mirror’). Dengan begitu, posisi badan bisa lebih ideal. Garis centerline tubuh pengendara dari bokong sampai kepala berada disamping dalam garis centerline motor. Seperti yang nampak berikut ini:
Ilustrasi lebih sempurna ditunjukan foto para Pro racer atau pembalap beneran, yang bahkan dengan kemiringan motor yg extrem (max lean angle) tapi mampu menjaga tubuh tetap pararel dibagian dalam garis centerline motor.
TIME TO PRACTICE, A LOT OF PRACTICES
Orang bilang ‘practices make perfect‘, cara terbaik untuk belajar adalah dengan melakukannya sesering mungkin. Demikian juga dengan cornering. Do it often, and you will be good at it.
source : satria155.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar